Siapa yang menemukan alasan untuk hidup, ia dapat menyelesaikan masalah dengan cara apapun

Senin, 23 November 2009

Mengembangkan Metode, Meningkatkan Kecerdasan

Sebuah selebaran tentang unsur-unsur pengajaran tradisional yang dibuat oleh pakar pendidikan Eric Jensen dan jeannette Vos menyebutkan salah satu diantaranya: “kapur—pidato—tunjuk jari”. Tidak tersedia penjelasan lebih lanjut, tetapi penyebutan “kapur—pidato—tunjuk jari” sebagai salah satu unsur pengajaran tradisional mendapatkan gambaran dan pembenarannya sekaligus saat melihat kegiatan dalam ruang-ruang kelas sekolah kita. Pengalaman kita sebagai murid sekolah dahulu atau saat menjadi guru sekarang adalah pengalaman rutin tentang guru yang memasuki kelas, murid yang segera duduk rapi di bangku; guru yang mengambil kapur untuk menulis di papan tulis, murid yang menyalin di buku catatan; guru yang aktif berpidato menerangkan pelajaran, murid yang tekun mendengarkan; guru yang melontar tanya dengan menunjuk salah satu murid untuk menjawab, murid yang diam, tengok kiri kanan karena tak tahu jawaban, atau menjawab seadanya; guru yang menawarkan kesempatan kalau-kalau ada pertanyaan, murid yang diam karena tak ada yang mau bertanya. Sebagai guru, kita sudah lama tidak membayangkan, apa yang dirasakan para murid jika semua guru menampilkan ‘logat’ pembelajaran yang sama : kapur (menulis), pidato (menerangkan), dan tunjuk jari (memberi pertanyaan).

Jika para murid diperkenankan bertindak jujur terhadap dirinya, mungkin akan banyak murid yang bernasib seperti Totto Chan—tokoh dalam sebuah novel pendidikan anak. Ia terpaksa dikeluarkan dari sekolah karena bertindak aneh selama di kelas: berdiri di dekat jendela memandang keluar sembari menunggu pengamen datang bernyayi untuknya. Tidak jarang, sembari menunggu pengamen, ia bernyayi-nyayi sendiri. Beruntung ia mendapat sekolah yang bisa memahami dirinya, belajar di kelas yang terbuat dari bekas gerbong kereta dan setiap murid bisa memulai pelajaran dari mana saja yang disukai. Di sekolah barunya, Totto Chan terbebas dari kepercayaan yang keliru tentang pembelajaran: siswa yang tidak bisa duduk diam berarti tidak siap belajar.

Apa jadinya jika murid-murid yang berperilaku seperti Totto Chan tidak mendapatkan sekolah yang dapat menampung cara belajarnya, seperti kelas di gerbong kereta? Mungkin murid-murid itu akan dipaksa putus sekolah, karena sekolah bukan tempat orang yang tidak mau diatur—termasuk yang tidak mau diatur cara belajarnya.

Figur semacam Totto Chan dalam dunia nyata bukan tidak ada. Beberapa diantara mereka adalah tokoh berpengaruh yang memberi sumbangan besar pada peradaban. Sebut saja misalnya Albert Einstein, Winston Churchill dan Thomas Alva Edison. Berikut ini kisah mereka menghadapi gaya belajar sekolah yang tidak sesuai dengan gaya khas mereka (dalam Dryden & Vos, 2001).

Albert Einstein kecil dikenal suka melamun. Guru-gurunya di Jerman mengatakan bahwa dia tidak akan pernah berhasil di bidang apapun; bahwa pertanyaannya merusak disiplin kelas; bahwa lebih baik jika ia tidak usah bersekolah. Namun, dia terus berusaha dengan gaya belajarnya sehingga menjadi salah satu ilmuwan terbesar sepanjang sejarah.

Winston Churchill saangat lemah dalam pekerjaan sekolah. Dalam berbicara dia agak gagap dan cadel. Namun ia kemudian menjadi salah satu pemimpin dan orator ulung terbesar di abad ke-20.

Thomas Alva Edison pernah dipukul di sekolah dengan sebuah ikat pinggang kulit karena gurunya menganggap dia ‘mempermainkan’ dengan mengajukan begitu banyak pertanyaan. Dia begitu sering dihukum sehingga ibunya mengeluarkan dia dari sekolah hanya setelah tiga bulan mengenyam pendidikan formal. Dia terus berusaha sehingga menjadi penemu paling produktif sepanjang zaman.

Albert Einstein, Winston Churchill dan Thomas Alva Edison menjadi ‘korban’ dari ‘malapraktek guru dalam melakukan pembelajaran di kelas. Namun, pembelajaran guru yang kurang tepat tak mampu membendung potensi kecerdasan yang dimilikinya. Kecerdasan mereka lebih berharga daripada sekedar mengikuti apa yang dimaui guru dan sekolah pada umumnya. Demi mengasah potensi optimal kecerdasan, mereka memandang putus sekolah sebagai sesuatu yang remeh belaka. Namun, seberapa banyak orang seperti mereka, yang tanpa putus asa terus mengasah kecerdasannya dengan cara khas mereka sendiri. Tidak sedikit orang yang, walaupun cukup cerdas, memandang putus sekolah sebagai putus harapan—termasuk jaminan hidup bahagia di masa depan.

Riset yang dilakukan oleh pakar pendidikan seperti Howard Gardner, Dunns dan Barbara Prashnig jelas menunjukkan bahwa kebanyakan murid putus sekolah tidak mendapatkan prestasi yang terbaik di sekolah yang hanya menampung dua ragam kecerdasan dari tujuh atau lebih kecerdasan manusia (multiple intelligence). Juga, kebanyakan dari murid putus sekolah merasa terabaikan di tengah lingkungan sekolah yang tidak mendukung pembelajaran kinestetis (Dryden & Vos, 2001).

Dua kecerdasan yang dimaksud mungkin ini: kecerdasan linguistik (bahasa) dan kecerdasan logika-matematika. Kecerdasan linguistik tertampung dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, bahasa inggris, maupun ilmu sosial, sementara kecerdasan logika-matematika tertampung pada mata pelajaran matematika dan ilmu-ilmu eksakta. Namun, menimbang-nimbang mata pelajaran sebagai pengasah kedua kecerdasan itu tidaklah cukup. Hal yang lebih penting dalam mengasah kedua kecerdasan itu adalah bagaimana cara guru mengajar mata pelajaran.

Kebanyakan cara guru mengajar adalah dengan menempatkan dirinya sebagai subjek. Guru adalah pengendali penuh proses belajar mengajar. Apalagi, dengan banyaknya materi pelajaran dan terbatasnya waktu yang tersedia, guru terdorong lebih aktif dalam menyampaikan materi. Hasil observasi kelas yang dilakukan oleh peneliti John Goodlad mengungkapkan bahwa pada kebanyakan kasus, guru merupakan pihak yang berbicara paling banyak sepanjang waktu, sementara siswa pasif mendengarkan. Proses pembelajaran dalam kelas kurang mendorong siswa mengasah kemampuan linguistik. Siswa tidak banyak diberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapat atau mengajukan pertanyaan. Padahal, mengungkapkan gagasan secara verbal merupakan latihan metakognitif yang penting, karena dengan sering mendengar diri kita berbicara, dan membaca apa yang kita tulis, maka kita memperoleh wawasan mengenai apa yang benar-benar kita pikirkan atau kita ketahui (Campbell, Campbell dan Dickinson, 2006). Sementara, pada pelajaran matematika, para murid hanya diajarkan rumus-rumus belaka, tanpa mengetahui asal-usulnya, harus dihafal di luar kepala—jauh dari esensi pembelajaran matematika, yakni logika. Sementara, pada mata pelajaran lain, guru kurang memberikan kesempatan siswa agar berkembang mandiri menyelesaikan permasalahan tertentu yang relevan dengan apa yang dipelajari—sebuah pondasi dalam berpikir logis-ilmiah.

Pengertian terbaru mengenai kecerdasan manusia membuat para guru harus berpikir ulang dalam memandang murid, termasuk dalam melakukan proses pembelajaran. Howard Gardner menyatakan bahwa otak manusia adalah organ yang sangat kompleks dengan kapasitas yaang jauh lebih besar untuk belajar ketimbang yang saat ini dipakai manusia. Artinya, setiap manusia, termasuk murid, begitu juga guru, berkesempatan meningkatkan potensi kecerdasannya. Konon, penemuan ilmiah menakjubkan yang dilakukannya, Albert Einstein baru menggunakan 15 % dari potensi otaknya. Lantas, akankah murid-murid yang berpotensi lebih cerdas ditumpulkan potensinya akibat cara mengajar guru yang tidak mampu mendayagunakan kecerdasan para muridnya? Bisa ditegaskan bahwa sebenarnya tidak ada murid yang bodoh, juga tidak ada murid yang mengalami kesulitan belajar, yang ada hanyalah kesulitan guru untuk mengajar—untuk tidak mengatakan masih ‘bodoh’ dalam menggunakan beragam metode pembelajaran yang efektif.

Pentingnya metode pembelajaran
Metode pembelajaran sangat penting perannya dalam mengoptimalkan kecerdasan murid. Jika metode yang digunakan baik dan tepat, murid akan terangsang untuk mengoptimalkan kecerdasan yang dimiliki. Metode yang digunakan bukan hanya baik tapi juga tepat. Artinya metode yang dipakai sesuai dengan kebutuhan pembelajaran—termasuk kesesuaian metode tersebut bagi warga belajar. Dalam hal ini metode memiliki kemampuan sebagai alat rangsang yang mampu membangkitkan potensi kecerdasan murid. Untuk itu, bisa dipahami bahwa metode merupakan alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar.

Maka orang mungkin tidak berani membantah bahwa kesuksesan guru—sebagai guru teladan maupun guru favorit di sekolah—terletak pada kesuksesannya dalam menggunakan metode pembelajaran. Murid-murid memandang seorang guru lebih favorit dibanding yang lain karena kemampuannya dalam membawa murid-murid ke alam pembelajaran. Ada semacam inspirasi yang menggerakkan saat guru melakukan proses pembelajaran. Dengan menggunakan metode yang baik dan tepat, seorang guru dapat mengajak murid berada dalam suasana yang dinikmati, bahkan merasa proses pembelajaran adalah milik dirinya—mereka merasa bahwa proses pembelajaran yang dilakukan melibatkan potensi cerdas yang dimilikinya.

Untuk itu guru perlu kiranya mengembangkan metode belajar melalui penggunaan metode yang variatif (sesuai dengan potensi murid yang variatif), memilih metode yang baik (yang mampu meningkatkan kecerdasan siswa) dan menggunakan metode tersebut secara tepat (yang dapat mencapai tujuan pembelajaran).

Ada beberapa argumen yang menguatkan bahwa mengembangkan metode dapat meningkatkan kecerdasan murid. Pertama, kecerdasan bersifat dinamis, artinya ia dapat berkembang dalam dinamika interaksi yang memungkinkan potensi kecerdasan itu tumbuh. Artinya, senada dengan peran metode sebagai alat motivasi ekstrinsik, lingkungan mempengaruhi perkembangan kecerdasan seseorang. Adanya murid yang putus sekolah seperti beberapa tokoh di atas, sebenarnya mencerminkan lingkungan sekolah kurang memberi suasana yang dinamis bagi kecerdasan muridnya. Kedua, metode yang bervariasi memungkinkan murid mengoptimalkan dua potensi otaknya, yakni otak kiri dan otak kanan. Selama ini sekolah lebih menghargai potensi otak kiri (yang rasional, logis, analitis) daripada otak kanan (intuitif, imajinatif dan holistik) muridnya. Ketiga, dalam pertumbuhannya, kecerdasan setiap murid bersifat unik. Setiap orang memiliki ‘jalan cerdas’ nya masing-masing. Artinya, kita tidak tahu pada keadaan yang bagaimana seseorang itu menemukan pencerahan (insight). Harapannya, metode yang digunakan oleh guru dalam belajar di kelas mampu memberikan secercah cerah bagi murid dalam melihat potensi unggul pada dirinya.

Bagaimana mengembangkan metode sekaligus meningkatkan kecerdasan? Beberapa langkah awal perlu dilakukan guru sebelum menentukan metode yang akan digunakan. Pertama, guru harus berpikiran terbuka. Tidak jarang guru terpaku pada metode pembelajaran tertentu karena metode itulah yang dia alami saat dia belajar di sekolah dahulu. Metode ceramah dipilih guru karena metode itulah yang sering dialami dan dilakukan. Jika guru berpikiran tertutup, ia akan mengabaikan dan tidak akan pernah mencoba menggunakan metode lain. Kedua, guru perlu memahami kecerdasan murid-muridnya. Ini penting karena setiap murid memiliki salah satu atau lebih kecerdasan yang menonjol diantara tujuh kecerdasan manusia (linguistuk, matematika-logika, musik, visual-spasial, kinestetik, intrapersonal dan interpersonal). Pemahaman yang baik tentang ketujuh kecerdasan ini diharapkan guru dapat memilih metode yang bisa diikuti dengan baik dan menyenangkan oleh para muridnya. Bagi murid yang memiliki kecerdasan visual-spasial yang baik, mungkin ia lebih tertarik dengan menuliskan ayat alqur’an dalam bentuk kaligrafi daripada diminta membaca dan menghafal ayat tersebut. Ketiga, guru perlu menampung berbagai macam kecerdasan yang berbeda-beda sebagai potensi dalam melakukan proses pembelajaran. Jangan ada ‘diskriminasi kecerdasan’ dengan cara menampung potensi kecerdasan murid tertentu dan mengabaikan potensi kecerdasan murid yang lain. Kabar buruknya adalah, guru cenderung menggunakan cara, gaya dan metode mengajar yang sama dengan cara, gaya dan metodenya dalam belajar. Keempat, guru perlu banyak melakukan uji coba terhadap metode-metode pembelajaran yang mungkin pada tiap jenis kecerdasan. Ini sekaligus juga mengasah kepekaan guru terhadap kecenderungan potensi murid yang berbeda dengan kecenderungan potensi dirinya. Kelima, guru menempatkan murid sebagai subjek belajar. Ini merupakan prasyarat yang perlu ada dalam pembelajaran sehingga murid tidak hanya mendengar, tetapi juga bicara, murid tidak hanya membaca, tetapi juga menulis, murid tidak hanya melihat dan mendengar, tetapi juga mempraktekkannya. Metode-metode seperti bermain peran (role play), diskusi kelompok, debat, praktek, mampu menempatkan murid sebagai pelaku dalam proses pembelajaran. Mengharapkan murid dapat sholat jenasah lengkap dengan kaifiah dan bacaannya tidak cukup dengan menjelaskan di muka kelas dan meminta murid mencatat bacaannya, tapi juga harus praktek. Untuk meneladani figur rasulullah, kita dapat mengajak murid memainkan peran sebagai sahabat nabi yang bisa diteladani semacam abubakar (saat membenarkan kenabian muhammad, misalnya), umar (saat memikul gandum sendiri untuk diberikan pada rakyatnya yang miskin, misalnya), bilal (saat diseret dan tubuhnya ditindih batu, misalnya). Dan sebagainya, dan sebagainya.

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 09 Oktober 2009

Pola-pola Eksternal Menuju Sukses


“Begitu berita tersebar bahwa kami mengadakan pertunjukan, penonton mulai berdatangan ke klub. Kami bermain tujuh malam tiap minggunya. Pada awalnya kami bermain hampir nonstop sampai jam setengah satu malam saat klub ditutup, tetapi saat permainan kami terus membaik penonton terus bertahan sampai jam dua pagi.”

Jika kecerdasan, bakat, ambisi dan kegigihan tidak terlalu berarti, apa rahasia dibalik kesuksesan seseorang? Kalau keberhasilan individu bukan yang utama, apa penentu keberhasilan seseorang? Dalam buku ini, Malcolm Gladwell membangun tesis yang tidak biasa bahwa kesuksesan seseorang diperoleh karena kesempatan dan warisan budaya.

Kutipan di atas adalah ungkapan Pete Best, pemain drum The Beatles. Pada tahun 1960, saat The Beatles masih berupa band rock sekolah, Pete Best dan kawan-kawannya diundang untuk bermain di sejumlah klub di Hamburg, Jerman. Tujuh hari dalam seminggu! Selanjutnya, selama tahun 1960 sampai akhir 1962 The Beatles melakukan perjalanan ke hamburg sebanyak lima kali yang seluruhnya berjumlah 270 malam. Tiap malam mereka melakukan pertunjukan minimal lima jam. Kesempatan di undang ke Hamburg mereka gunakan untuk memperbaiki kualitas permainannya. Hamburg menjadi kawah candradimuka bagi mereka dengan banyak belajar tentang stamina, berbagai aliran lagu dan kedisiplinan. Sekembali dari Hamburg, The Beatles telah menemukan cara terbaik dalam bermain musik. Tanpa kesempatan bermain musik di Hamburg, The Beatles mungkin akan merajut cerita sukses yang berbeda.

Pola yang sama dialami oleh Bill Gates. Pada awal kelas tujuh, orangtua Gates mengirimnya ke Lakeside, sebuah sekolah yang berisi anak-anak keluarga kaya di Seatle. Saat menginjak tahun kedua, Gates bergabung di klub komputer yang baru didirikan sekolahnya. Saat itu, tahun 1968, komputer adalah barang mengagumkan, yang universitas-universitas pun belum banyak memilikinya. Waktu-waktu berikutnya adalah kesempatan bagi Gates belajar banyak tentang program komputer. Praktis, pengalaman mengembangkan perangkat lunak selama lima tahun di sekolah menengah ditambah dua tahun di Universitas Harvard, cukup bagi Gates untuk membuat perusahaan perangkat lunak sendiri.

The Beatles dan Bill Gates adalah dua contoh orang-orang sukses yang melewati pola yang sama: mereka memperoleh kesepatan yang istimewa. Secara metaforis Gladwell menamai mereka sebagai outlier, yakni orang yang melakukan hal-hal di luar kebiasaan. Dalam pengertian yang lebih luas, outlier berarti sesuatu atau seseorang yang berada di luar keadaan normal.
Melalui bukunya ini, Gladwell memperkenalkan berbagai jenis outlier: orang jenius, musisi rock, pembuat program perangkat lunak dan raja bisnis dunia. Gladwell mengenalkan outlier dalam kisah sukses yang tidak biasa. Ia memaparkan data dan hasil penelitian psikologi sosial bahwa kesuksesan bukan hanya ditentukan oleh faktor individu, tetapi juga faktor sosial. Faktor terakhir ini mengingatkan siapa saja yang ingin sukses untuk menilik tempat dan waktu seseorang tumbuh besar. Karena, kesempatan yang diperoleh dan kebudayaan tempat seseorang tumbuh berpengaruh pada pola keberhasilan yang dicapai siapapun dan dalam bidang apapun.

Saat banyak penulis buku tentang kesuksesan memosisikian individu sebagai pelaku kunci, tidak demikian halnya dengan Gladwell. dalam bukunya yang ditulis dengan gaya bercerita ini, Gladwell menangkap fenomena yang luput dari pandangan para penulis tentang kesuksesan. Tanpa menganggap remeh kecerdasan dan bakat seseorang, Gladwell menyematkan tanggung jawab masyarakat sebagai penentu kesuksesan seseorang: masyarakat seharusnya menyediakan kesempatan seluas-luasnya dan mewariskan nilai-nilai yang mendukung kemungkinan seseorang untuk mencapai sukses.

Dengan gaya bercerita yang seprovokatif buku-buku yang ditulis sebelumnya, The Tipping Point dan Blink, Gladwell menggugah pikiran pembaca dalam memandang fenomena yang semula dianggap lumrah. Ia menunjukkan pentingnya tanggal lahir saat pada proses seleksi pemain hoki terbaik di Kanada. Batasan umur penerimaan berbagai kelas usia hoki di Kanada adalah tanggal 1 Januari. Seorang anak laki-laki yang berusia sepuluh tahun pada tanggal 2 Januari bisa bermain bersama-sama seseorang yang berumur sepuluh tahun di akhir tahun itu—padahal, pada periode praremaja, jarak dua belas bulan membuat perbedaan fisik yang besar (hlm 23). Sehingga kebanyakan anggota tim terbaik lahir di bulan Januari, Februari, Maret dan April. Menurutnya, jika kebijakan penerimaan dibuat dua kali pertahun, akan lebih banyak pemain hoki terbaik di Kanada. Pola semacam ini bisa berlaku pada penerimaan murid baru di sekolah dasar: dengan menimbang usianya, kapan sebaiknya seorang anak mulai menikmati hari-hari pertama di sekolah.

Merujuk hasil penelitian, Gladwell mengingatkan tentang kaidah 10.000 jam: seseorang perlu berlatih sebanyak itu untuk mendapatkan keahlian dalam sebuah bidang. Latihan sebanyak itu pula yang ditempuh The Beatles dan Bill Gates. Dengan menekankan pentingnya ‘kecerdasan praktis’—mengetahui apa yang harus dikatakan kepada orang tertentu, mengetahui kapan mengatakannya dan tahu bagaimana mengatakannya untuk mendapatkan hasil yang maksimal—Gladwell berkisah tentang dua orang genius dalam menghadapi problem kuliah, dan berujung pada kesuksesan karier setelahnya. Dua orang genius bernasib lain karena lingkungan yang berbeda mempengaruhi kualitas kesuksesan. Dalam hal ini, Gladwell menekankan pentingnya keluarga sebagai lingkungan awal pembentuk kesuksesan seseorang, baik genius maupun tidak.
Orang mungkin tidak akan mengira bahwa jatuhnya pesawat terbang dipengaruhi oleh latar belakang budaya awak pesawatnya. Ini berarti bahwa kesuksesan sebuah maskapai penerbangan dipengaruhi oleh warisan budaya awak pesawatnya. Sebelum Korean Air memperbaiki managemennya melalui pembenahan sikap budaya, kecelakaan yang menimpa pesawatnya tujuh belas kali lebih banyak daripada hal yang sama menimpa United Airlines. Bahasa yang digunakan awak pesawat, yakni Bahasa Korea, memiliki enam tingkatan bahasa yang berbeda, bergantung pada hubungan antara kedua pembicara: formal, informal, terbuka, akrab, intim dan datar. Dalam Dimensi Hofstede, orang Korea memiliki Power Distance Index (PDI) tinggi yang menyulitkan komunikasi asertif antara kapten pilot dan ko-pilot dalam sebuah penerbangan yang kritis. Argumentasi ko-pilot dalam menghadapi kasus penerbangan dihambat oleh jarak kekuasaan yang tinggi sehingga tidak bisa berkata lugas kepada pilot yang dalam hirarki penerbangan lebih tinggi tingkat kekuasaannya. Karena faktor budaya pula orang-orang Asia, dengan dipengaruhi oleh pencahariannya menanam padi, memiliki keunggulan dalam bidang matematika.

Pada akhirnya, tesis Gladwell tentang outlier sesunguhnya juga mengisahkan tentang dirinya sendiri. Dia adalah staf penulis di The New Yorker dan mantan reporter bidang bisnis dan sains di Washington Post. Buku Outliers tidak hadir dalam bentuk semacam ini jika dia tidak ada kesempatan baginya melihat ayahnya bekerja, mulai dari mengkaji matematika sampai berkebun, dalam keadaan gembira, teguh dan antusias. Ia pun diberi kesempatan belajar dari ibunya tentang bagaimana mengungkapkan sesuatu dengan jelas dan sederhana. Neneknya, Daisy Nation—yang kepadanya buku ini dipersembahkan—telah berjuang menghadapi diskriminasi ras di Jamaika sehingga ibunya bisa memperoleh pendidikan. Sebuah pola yang indah mewujud dalam keunikan buku: paduan antara ketelitian, kelugasan dan kesegaran sudut pandang.

Apa pelajaran penting dari buku Outliers ini? Faktor eksternal, yakni tersedianya kesempatan dan pewarisan budaya turut menentukan kesuksesan. Masyarakat sedianya memberi kesempatan seluas-luasnya pada siapapun dalam menapaki jalan kesuksesan. Antarsesama selayaknya terjalin bantuan yang memudahkan jalan sukses. Perlu ada penanaman nilai-nilai positif yang memungkinkan terjadi reaksi kimiawi kesuksesan. Terkhusus dalam pendidikan, tiga matranya, yakni keluarga, sekolah dan masyarakat seyogyanya saling mendukung tersedianya ruang cerah kesuksesan pada anak atau peserta didik, bukannya saling mengandalkan apalagi menghambat satu sama lain. []



[+/-] Selengkapnya...

Rabu, 05 Agustus 2009

Organisasi sebagai Rumah Belajar

1. Pada saat pemerintah mengkampanyekan sekolah gratis, saat itu pula ‘sekolah mahal ada dimana-mana’. Program pemerintah membuat SSN (Sekolah Standar Nasional) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) pada akhirnya menyedot banyak biaya dari masyarakat. Secara tidak langsung sekolah formal menciptakan stratifikasi sosial di masyarakat kian menganga. Dampaknya tentu tidak menguntungkan bagi masyarakat menengah ke bawah. Biaya pendidikan tidak terjangkau. Pada saatnya, kesenjangan ini akan ‘mengganggu’ kepribadian pelajar. Pelajar dari kalangan menengah ke bawah tidak banyak kesempatan melakukan ‘concerted cultivation’, yakni pengembangan (diri) yang dilakukan bersama (antara orang tua atau pihak lain dengan dirinya). Pelajar dari kalangan ini tidak banyak belajar menumbuhkan perasaan memiliki ‘hak’. Mereka tidak tahu cara mendapatkan keinginan dan bagaimana menyesuaikan diri dengan lingkungan yang dihadapi untuk memenuhi keinginannya (Gladwell, 2009).
Keadaan seperti di atas memberikan ‘jalur hijau’ bagi organisasi pelajar untuk membantu pelajar dalam belajar memahami hak-haknya melalui pengalaman-pengalaman keorganisasian. Sudah terbukti bahwa organisasi mampu menjadi sarana mobilitas sosial bagi anggota-anggotanya. Organisasi punya tugas menghambat agar jurang kelas sosial tidak menganga lebar.

2. Ujian Nasional (UN) maupun seleksi masuk lainnya membuka celah bagi kecurangan sistematis yang dilakukan oleh pelaku pendidikan itu sendiri. Sudah jadi rahasia umum bahwa kecurangan dalam UN dilakukan oleh para guru, siswa, dan institusi pendidikan demi mendapat nilai akademik tinggi. Sementara nilai-nilai lain yang lebih luhur, seperti kejujuran, keadilan, dikesampingkan.
Keadaan seperti di atas menjadi ‘bel masuk’ bagi organisasi pelajar dalam melakukan pendidikan karakter melalui kegiatan yang diselenggarakannya. Bagaimana pendidikan karakter itu? Menurut Thomas Lickona, ada tiga langkah ampuh dalam mendidik karakter, yakni knowing, loving dan acting the good. Melalui program dan kegiatannya, organisasi pelajar sedianya memberi ruang bagi anggotanya dalam memahami nilai-nilai, mencintai nilai-nilai itu dan menerapkannya dalam kegiatan sebagai tindakan yang bisa diteladani.

3. Problem kurikulum masih belum beranjak dari rangkaian pengetahuan yang memberatkan pelajar. Sebagaimana dikuatirkan Bertrand Russell (1993), pengetahuan yang diberikan pada pelajar melebihi kemampuannya mencerna bisa menggerus hasrat atas pengetahuan. Ada semacam pertantangan seperti digambarkan oleh John Dewey sebagai ‘anak versus kurikulum’: pertentangan yang timbul dari kepribadian anak melawan keinginan orang dewasa yang tersusun dalam kurikulum. Apa yang terjadi? Banyak pengetahuan yang didapat pelajar tidak relevan dengan kehidupannya sehari-hari. Pada akhirnya, lulus sekolah atau kuliah, tidak menjamin kecakapannya dalam melakukan aktivitas profesional.
Keadaan di atas memberi ‘jalan terang’ bagi organisasi pelajar untuk menempatkan diri sebagai ‘jembatan pengetahuan’ yang mampu mengkontekstualisasikan pengetahuan yang didapat di sekolah. Pembelajaran kontekstual menurut Elaine B Johnson (2009) meliputi delapan komponen: 1)membuat keterkaitain-keterkaitan yang bermakna; 2) melakukan pekerjaan yang berarti; 3) melakukan pembelajaran yang diatur sendiri; 4) bekerja sama; 5) berpikir kritis dan kreatif; 6) membantu individu untuk tumbuh dan berkembang; 7) mencapai standar yang tinggi; dan 8) menggunakan penilaian autentik. Komponen-komponen di atas memungkinkan dilakukan oleh organisasi sehingga pelajar mampu memaknai apa yang dipelajarinya di sekolah.

4. Pelajar, guru, orang tua, dan masyarakat pada umumnya lebih mempedulikan kemampuan kognitif melalui jalur pendidikan formal. Sekedar misal, anak-anak masuk SD sudah dites dengan baca tulis, bahkan diberi soal-soal yang menghendaki kemampuan membaca dan menulis. Masuk SMP, SMA dan PT diuji dengan Tes Potensi Akademik (TPA). Sementara, orang tua pun rela mengeluarkan banyak biaya demi meningkatkan kemampuan akademik anaknya dengan memasukkan anaknya ke sekolah ‘berkelas’, ikut kursus-kursus dan sebagainya.
Keadaan tersebut menjadi ‘lampu kuning’ bagi organisasi pelajar bahwa organisasi pelajar dipandang tidak relevan bagi perkembangan diri pelajar. Dampak ikutannya, pelajar tidak terlalu berminat pada aktivitas keorganisasian, apalagi terlibat terlalu jauh. Kemampuan yang diperoleh lewat organisasi seperti kepemimpinan, pengambilan keputusan, public speaking, diperoleh melalui kursus-kursus yang tidak mengikat, walaupun dengan biaya tinggi.

5. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa diimbangi dengan kesadaran atas makna pengetahuan, hanya melanggengkan sikap-sikap yang justru merugikan pelajar itu sendiri. Sebagai misal, kunci jawaban ujian beredar lewat sms, tugas makalah didapat dengan copy paste hasil searching di internet. Adanya teknologi praktis tersebut justru menggerus identitas dan integritas pelajar sebagai agen intelektual.
Keadaan diatas bisa menjadi ‘lampu merah’ karena secara langsung mempengaruhi pelajar, dan bisa jadi, pengurus organisasi itu sendiri sebagai pelakunya.

6. Organisasi seyogyanya menjadi tempat belajar tentang apa yang disebut psikolog Robert Stenberg sebagai ‘kecerdasan praktis’ (Gladwell, 2009). Bagi Stenberg, ‘kecerdasan praktis’ meliputi hal-hal seperti mengetahui apa yang harus dikatakan pada orang tertentu, mengetahui kapan mengatakannya, dan tahu bagaimana mengatakannya untuk mendapat hasil yang maksimal. ‘Kecerdasan praktis’ ini diasah dalam organisasi saat kita merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan dan menilai ketercapaian suatu kegiatan. Kecerdasan ini sulit terasah pada seseorang yang, dengan IQ tinggi, justru mengandalkan kemampuan kognitif (analisis) semata.

7. Organisasi perlu menguatkan visinya sebagai rumah belajar bagi pelajar pada khususnya, dan masyarakat umumnya. Visi ini idealnya melekat pada setiap pengurus maupun kader, sehingga dapat dicerminkan dalam program dan aktivitas keorganisasian. Bobbi DePorter (2007) memberi nasehat, “jadilah model bagi visi anda. Terapkanlah agar orang-orang melihatnya.”
Pelajaran baik datang dari Gola Gong yang meyakini, sebagai sebuah prinsip, bahwa “rumah adalah tempat belajar” (Kompas 26 Juli 2009). Ini tersirat pada isi rumahnya yang penuh dengan buku sebagai ‘perabot utama’ rumah tangga. Rumahnya pun tak pernah sepi dari hilir mudik anak muda yang ingin belajar: membaca, menulis, bermain musik. Jika kita meyakini organisasi sebagai rumah belajar, apa kira-kira ‘perabot’ yang harus dimiliki? Jika kita meyakini organisasi sebagai rumah belajar, lingkungan seperti apakah yang hendak kita ciptakan?

8. Sebagai rumah belajar, organisasi perlu menampung berbagai kecenderungan, minat dan bakat pelajar yang, lewat kegiatan keorganisasian, pelajar mampu mengaktualisasikan kecenderungan, minat dan bakatnya itu. Daniel Goleman membagi kecerdasan dalam delapan jenis: linguistik, kinestetik, matematis, spasial, musik, interpersonal, intrapersonal, dan natural. jadi, keberagaman kecerdasan itu mempengaruhi kecenderungan, minat dan bakat pelajar dan perlu dikembangkan melalui komunitas-komunitas pelajar.

9. Selayaknya ada ‘metabolisme’ dalam organisasi yang secara bawah sadar mempertanyakan diri sendiri, bahwa dalam segala aktivitas keorganisasian, akan selalu timbul pertanyaan, “kamu sedang belajar apa?”; “apa pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman atau aktivitas yang dilakukan dalam organisasi?”; “apakah pengetahuanku bertambah?” Jika jawaban dari pertanyaan itu cenderung negatif, artinya organisasi tidak bisa menjadi rumah belajar bagi anggotanya, lebih baik si anggota cepat-cepat beranjak meninggalkan organisasi, mencari tempat lain yang bermanfaat dunia akhirat. Ingat, hidup ini singkat, seumpama belajar ‘sistem kebut semalam’.

Semarang, 1 Agustus 2009

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, 08 Juli 2009

Tak Ada Pesta di Hari Pemungutan Suara

Hari itu, 8 Juli 2009, sekitar tujuh menit terlewat dari pukul 08.00, berlangsung kemeriahan warga yang bukan pesta. Masih pagi benar mungkin. Warga masih belum tergerak hadir di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Di TPS 9 RT 07 RW 3 Kelurahan Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat, warga memenuhi kursi yang tak seberapa jumlahnya, satu-dua menit setelah TPS dibuka resmi oleh ketua RT—yang juga ketua KPPS. Ramai dan lengang memenuhi ruang sempit di TPS. Datang dan pergi, ke dan dari sebuah tempat yang, sekali lagi, tidak layak disebut pesta.

Disini tak ada pesta, hanya ada tiga meja, kursi yang tak seberapa, empat bilik, sebuah kotak suara, dan tenda biru yang tertata sederhana. Tenda biru didirikan di lontrong yang lengang, sekitar 3,5 meter lebarnya. Tenda membentang sebagai atap dengan kerangka potongan bambu dan tali seadanya. Bambu dan tali menopang lembaran tenda biru yang sudah dipenuhi lubang dan tambalan. Lontrong ditutup di dua mulutnya dengan palang glugu dan tanda nomor TPS. Walaupun sudah dipalang di mulut lontrong , banyak warga yang berlalu lalang dengan kesopanan yang bercampur segan. Dengan properti sedanya, warga yang datang lebih lambat harus bersiap kepanasan dan berdiri sambil menunggu namanya dipanggil. Perlengkapan sederhana ini sudah meyakinkan siapapun yang melintasi tempat ini bahwa disini benar-benar tak ada pesta.

Disini tak ada pesta, hanya ada sekelompok warga yang tertib mengantri di hari pemungutan suara. Mereka duduk dan berdiri, bergilir menunggu dipanggil oleh ketua RT. Mula-mula mereka mengumpulkan surat undangan ke KPPS setiba di TPS. Saat namanya disebut, mereka memungut kertas suara, menghampiri bilik suara, membubuhi tanda contreng pada calon presiden dan wakil presiden yang dipilih, melipat kembali kertas suara, memasukkan kertas suara di kotak suara dan menenggelamkan ujung jari kelingking kirinya ke dalam tinta warna biru. Begitu semua warga melakukan tindakan yang serupa. Sekali dua kali, anggota KPPS mengingatkan warga yang hampir lalai tidak mencelupkan ujung jari kelingking kirinya ke dalam tinta. Tingkah laku serupa yang dilakukan oleh para warga cukup meyakinkan siapapun bahwa disini benar-benar tak ada pesta.

Disini tak ada pesta, hanya perilaku Pak RT yang sering kali membikin gelak tawa para warga. Perilaku ketua RT seperti perilaku khas ketua RT umumnya di kampung Betawi—kocak dan asal njeplak!. Namun justru dari situlah sebuah kegiatan yang bukan pesta ini bisa dinikmati dan bahkan terjauh dari kelelahan yang menggelayut. Kelelahan mungkin sudah bergelayut diantara para anggota KPPS sejak semalam, yang lembur untuk mempersiapkan TPS dan perangkatnya. Akibat lembur inilah yang membuat Pak RT datang terlambat membuka acara pemungutan suara—tidak seberapa memang, hanya tujuh menit dari waktu yang sudah ditentukan oleh KPU, yakni pukul 08.00.

Entah sudah kebiasaan yang menetap atau karena kurang istirahat, ketua RT sering kali salah ucap dalam menyebut nama warga yang akan bergilir memilih. Misal, pak RT memanggil dengan keras, “Royati!”, hampir semua pengunjung TPS terdiam, bahkan tak ada yang berdiri mendekat menuju meja KPPS, sebelum akhirnya ada warga yang mengingatkan bahwa yang dipanggil Pak RT maksudnya “Reniyati”. “Eh, yah, Reniyati” begitu Pak RT membenarkan, seraya melanjutkan dengan kesalahan mengeja nama untuk warganya yang lain.

Karena TPS berada di lontrong yang biasa dipakai lalu lalang, Pak RT sempat kecelik. Pak RT memanggil dengan lantang, “Ristanto Wijaya!”, eh yang datang seorang perempuan. Kebetulan perempuan itu hanya numpang lewat pas di depan, mendekati meja KPPS. “Eh, dikire die..!” ucap Pak RT yang segera disambut tawa anggota KPPS yang lain dan sejumlah warga yang hadir.

Pak RT, dengan posisinya sebagai pemuka warga itu, tentu merasa dekat dengan warganya. Demikian sebaliknya, warga seperti merasa diorangkan dengan sambutan akrab Pak RT. Namun, bukan Pak RT kalau tidak asal jeplak seperti berikut ini.
“Hee…!” sambut Pak RT pada seorang anak muda yang baru hadir. “Dari Tebet jam berapa ya?” tanya Pak RT seketika pada anak muda tersebut yang mungkin bekerja atau punya tempat tinggal keluarga di Tebet.
“Bukan dari Tebet, Pak. Tapi Depok!” jawab anak muda itu sekaligus mengonfirmasi informasi yang salah yang selama ini diketahui Pak RT tentang dirinya.
“Oh, iya. Depok ya..” jawab Pak RT sekenanya, sambil melanjutkan memanggil warganya yang lain.

Menjelang siang kursi lengang. Warga seakan menunda kedatangan. Pak RT dan anggota KPPS lainnya memanfaatkannya dengan menyantap makanan ringan yang sudah disiapkan oleh ibu-ibu setempat. “Ayuh, ngopi yuh..” sapa Pak RT pada semua warga yang hadir.
“Pak RT, tamu nih.. kotaknya mana?” tanya seorang warga sambil menunjuk kawannya yang baru hadir. Kotak yang dimaksud dalam hal ini adalah makanan ringan.
“Kolak! Itu tuh, di warung!” jawab Pak RT dengan nada keras sembari menunjuk warung yang berada di dekat TPS. Seperti biasa, Pak RT menjawab sekenanya, yang dimaksud kotak, didengar Pak RT sebagai kolak.
“Kolak, kaya puasa saja kolak,” jawab tamu yang ditawari. Sejenak hadirin di TPS tertawa.

Begitulah. Disini benar-benar tak ada pesta. Hanya ulah Pak RT yang membikin warganya tertawa-tawa. Sebuah kemeriahan yang tercipta spontan, seadanya, dan terbersit ketulusan sebagai endapan dari interaksi intens sesama warga.

Sekali lagi, disini tak ada pesta, hanya perilaku warga pemilih yang membuat warga yang lain tidak bisa menahan gelak gembira. Ada seorang warga yang menjadi saksi bagi capres/cawapres tertentu. Ia hadir terlambat, namun pulang lebih cepat. Saat diminta menyaksikan dan menanggapi suara capres/cawapresnya yag tidak sah, ia hanya melongok sejenak, lalu bilang, “yah, saya percaya saja pada KPPS!” warga yang lain pun hanya mengoloknya, “menang atau kalah capres/cawapres yang didukungnya, dia tidak urusan, yang penting duit sebagai saksi sudah diterima!” warga yang lain sekilas tertawa.

Ada warga yang usai memasukkan kertas suara, hendak mencelupkan ujung kelingkingnya ke dalam secangkir kopi! Pasalnya, petugas KPPS yang melayani celupan tinta menaruh cangkir kopinya di sisi wadah tinta. Lagian, wadah tinta terlalu kecil dibanding cangkir kopi. “Bukan ini, ini kopi!” tegas petugas KPPS yang diiringi tawa warga di sekitarnya.

Seorang warga mengolok kawannya yang menjadi saksi salah satu capres/cawapres. Katanya, “memang saksi ikan asin di jemur!” Si saksi duduk di kursi yang tersiram kuyup panas matahari siang itu.

Ada juga seorang warga perempuan paruh baya yang latah dalam berucap. Yang bikin orang lain tertawa karena kata yang keluar dari latahnya adalah alat kelamin laki-laki!

Begitulah. Disini benar-benar tak ada pesta. Hanya polah warga yang merayakan kemeriahan sederhana sekedar bumbu dalam pergaulan sesama.

Benar, kan? bahwa disini tak ada pesta, hanya warga yang lamat-lamat mendeklarasikan diri, semacam perayaan kecil-kecilan, dengan peralatan sederhana, sikap dan tingkah laku seadanya, bahwa dirinya adalah warga negara yang telah memenuhi kewajibannya: hadir di TPS dan menentukan capres/cawapres pilihannya. Mereka tidak terlalu berurusan apakah capres/cawapres yang dipilihnya akan menang atau kalah. Yang jadi urusannya adalah bahwa dirinya harus menggunakan hak suaranya di hari pemungutan suara. Mereka tidak terlalu berhadap banyak bahwa pasca Pilpres 2009 akan ada perubahan yang lebih baik pada kehidupannya sehari-hari. Bahwa terhadap kondisi apapun yang selama ini mereka alami, mereka telah memiliki sikap bahagia, ada atau tidak ada pesta! []

Jakarta, 8 Juli 2009

[+/-] Selengkapnya...

Minggu, 14 Juni 2009

Pulau Galang dan Jejak Para Pengungsi


Dengan luas hanya 125 km2, siapa yang kenal Pulau Galang? Mungkin tidak semua peta Indonesia memuatnya. Orang Indonesia pun belum tentu tahu kalau pulau Galang adalah salah satu dari ribuan pulau di Indonesia. Kami mengenalnya setelah melalui perjalanan yang sebentar dan tahu pula bahwa orang yang bukan warga negara Indonesia justru lebih mengenal dan memiliki ikatan batin pada pulau ini.

Pulau Galang berada 35 km dari Pulau Batam. Pulau Galang dan beberapa pulau yang lain di sekitarnya dihubungkan oleh jembatan Balerang—jembatan yang menjadi ikon Kota Batam. Pada masa gejolak perang Vietnam, sekitar 200 ribu para pengungsi dari Vietnam, Laos dan kamboja menghuni pulau ini. Kamp pengungsian pun didirikan oleh Komisi Tinggi PB untuk Pengungsi (UNHCR) untuk memenuhi hajat hidup para pengungsi di pulau ini yang berdiam sejak Mei 1979 sampai tahun 1996. Para pengungsi Vietnam ini dikenal dengan menyebut singkatannya, yakni Sinam.

Bagaimana Pulau Galang 30 tahun kemudian –sejak pertama kali dihuni para pengungsi? Pulau ini kembali menjadi pulau yang tidak ramai. Sebagian besar tanahnya masih berupa hutan. Tanah merah dan berbatu tak cukup andal untuk pertanian. Tidak ada angkutan
kota, kecuali bus gratis untuk para pelajar. Pelajar disini tidak mengandalkan jalan darat saja untuk berangkat sekolah. Karena tempat tinggal yana berjauhan, mungkin dari pulau yang berbeda, mereka juga menggunakan perahu untuk pulang-pergi sekolah. Kebanyakan para tamu yang datang ke pulau ini tak lain untuk melihat jejak-jejak para pengungsi yanng masih tersisa.

Tamu yang semacam ini pun tidak terlalu banyak. Pulau galang dan beragam jejak para
pengungsinya tidak menyimpan nuansa objek wisata pada umumnya: ramai dan menyediakan hiburan. Pulau Galang seakan menghadiahi pengunjungnya dalam dua nuansa: tragedi kemanusiaan yang tragis pada satu sisi dan tindakan kemanusiaan yang tulus pada sisi yang lain. Sisi yang terakhir tersebut tidak dibatasi oleh wilayah negara dan batasan administratif lainnya. Para pengungsi yang berada di Pulau Galang ini seakan menjadi ‘anak semua bangsa’ –meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer. Indonesia menjadi ‘bapak’ dari para pengungsi itu, walau hanya dalam waktu 17 tahun, sebelum akhirnya mereka dipulangkan kembali ke Vietnam pada tahun 1996. Adalah Huan Nguyen Cornwall, salah seorang bekas pengungsi (yang saat itu masih anak-anak) kini menjadi mahasiswa University of Washington, Seattle. Dalam perjalanan hidup yang panjang dan penuh was-was, ia akhirnya bermukim di Amerika Serikat, menjadi anak angkat keluarga Cornwell. Ia sempat berkunjung ke Pulau Galang, mengingat kembali rekaman masa lalu hidupnya yang pahit itu.

Jejak para pengungsi dikelola oleh Otorita Batam sebagai objek wisata sejarah. Untuk masuk ke dalamnya, kami cukup merogoh 10 ribu rupiah untuk kendaraan roda empat. Dari dalam kendaraan, kami bisa menyaksikan jejak-jejak para pengungsi: barak, rumah sakit, sekolah, penjara, perahu, pelabuhan, tempat peribadatan (masjid, vihara dan gereja). Diantara jejak-jejak itu, hanya tempat ibadah yang masih digunakan oleh penduduk sampai saat ini.
Di awal gerbang masuk, kami disambut oleh vihara Quan Am Tu. Suara talu terdengar berirama dari dalam vihara, tanda ada jemaat yang sedang beribadah.

Saat mulai masuk, kami kembali disambut oleh gerombolan kera yang mendekati kami. Mungkin mereka mengira kami membawa banyak makan untuk mereka—sayangnya kami tidak bawa apa-apa. Pulau ini masih berupa hutan lebat dan kera-kera tentu tercukupi makanannya. Ulah mereka menarik perhatian kami dan memaksa kami untuk berhenti sejenak.

Kami mulai menyaksikan barak-barak yang tampak tidak terpelihara. Beberapa atap terlihat rapuh, tak mampu menopang beratnya sendiri. Hanya beberapa barak yang masih kokoh dan rapi, walau tetap menyimpan kekusutan masa lalu.

Di suatu sudut kami menyaksikan pemakaman dengan nisan yang kokoh. Di tempat inilah sebagian orang pengungsi beristirahat selamanya—di suatu pulau dimana mereka berencana untuk tinggal sementara saja. Konon, karena tak kuasa menanggung pende
ritaan sebagai pengungsi dan ketakutan akan masa depan, banyak para pengungsi yang bunuh diri, bahkan ada yang membakar diri hidup-hidup di depan petugas PBB.

Di bagian yang lain, kami menatap beberapa perahu yang ‘didaratkan’. Sayangnya, karena berada di alam terbuka dan hanya atap pelindung sekedarnya, beberapa perahu tampak rusak tak bisa menahan keasliannya. Kayu-kayu badan perahu itu lapuk oleh panas sinar matahari di Pulau Galang.

Di suatu ruang pada bagunan yang digunakan untuk bagian administrasi, kami bisa menyaksikan beberapa barang kerajinan tangan berupa tembikar dan lainnya yang merupakan buah tangan para pengungsi. Di beberapa bagian dinding, kami melihat foto-foto rekaman kejadian: kawanan muda membakar perahu—berharap mereka tidak dipulangkan ke Vietnam; kunjungan Presiden Soeharto ke Pulau galang tahun 1979; kepadatan pengungsi di pelabuhan; dan sebagainya. Foto yang paling baru merekam rombongan kedutaan besar Vatikan untuk Indonesia yang berkunjung ke objek wisata ini—sembari merekam jejak-jejak kemanusiaan para pengungsi.

Hendaknya pemerintah Otorita Batam melestarikan objek wisata ini, agar orang-orang di luar Pulau Galang dapat menyaksikan jejak tragedi kemanusiaan dan bersaksi bahwa yang tak manusiawi akan dibela dengan sikap manusiawi yang tanpa batas. []

Jakarta, 14 Juni 2009

NB. Untuk Abdul Mufallah, Yasni Atikah dan Reza Rizqy, minta izin foto-fotonya saya pakai. Ini tentang perjalanan kita.

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, 22 Januari 2009

SMA PLUS PGRI Cibinong: Melibas Batas Ruang Belajar

Satu kalimat singkat tereja segera saat kami memasuki gerbang sekolah itu: sekolah yang mungil. Selanjutnya: yah, PGRI. Namun, dalam waktu yang tidak terlalu lama, stereotipe kami terbantahkan oleh fakta dibalik kata yang menyertai nama sekolah itu : Plus!

Kami segera menuju ruang kepala sekolah. Pintu kami buka. Beberapa orang terinterupsi kesibukannya, lalu menyambut kami. Tiada yang tersisa di papar wajah mereka selain senyum mengembang tanda keramahan.

Beberapa lama kami berdialoh dengan Drs Basyarudin Thayib, M.Pd. (kepala sekolah) dan Drs Agus Rohiman (Wakasek Urusan Kurikulum). Berpanjang-panjang kami mengkaji tentang pendidikan di Indonesia. Sejenak-jenak Pak Basyar mengupas kilas tentang kemajuan sekolah yang dipimpinnya. “Dahulu sekolah ini tidak ada apa-apanya, murid cuma 200 orang. Sekarang tahun ini kami menerima siswa baru sebanyak 540 orang”, kami belum saja menangkap nilai lebih sekolah ini. “Sekolah kami menerapkan Multiple Intelegence. Siswa digolongkan dalam 14 minat dan bakat mereka”, memang ketakjuban tidak cukup diterangkan dengan kata-kata.

Sebagai obat penasaran, kami senang saja saat diajak mengamati sudut-sudut sekolah. Di ruang yang paling depan: kursi-kursi berjajar rapi memanjang. Sepertinya kursi itu hendak berkata bahwa setiap orang adalah tamu istimewa. Ruang tamu dengan pintu yang selalu terbuka.
Kami melewati ruang istimewa lagi: ruang oval. Atapnya tinggi menjulang, berupa lingkaran bentuk oval warna keemasan. Di dalamnya, meja-meja terjajar rampat membentuk lingkaran oval. Di muka ruangan, meja tinggi dan kursi besar—seperti meja hakim di pengadilan—menghadap lingkaran meja oval itu. Di tepi kiri-kanan ruangan, piala warna keemasan tertata rapat sepanjang ruangan. Penilaian sekilas ruangan itu: bersih, rapi dan berwibawa. “Ini ruang guru. Salah satu cara untuk menghargai pendidikan itu dengan lebih dahulu menghargai guru” begitu alasan Pak Basyar seakan hendak membela guru.

“Disini biasanya juga kami gunakan untuk mengadakan seminar terbatas. Jika ada pakar datang, kami minta untuk berbicara di depan”, terang Pak Basyar sambil menunjuk ke meja kursi besar yang ada di muka ruangan. Sebuah ruang yang hendak diantar dalam aura akademis, bukan ruang padat serupa pasar penuh rumpian.

Di salah satu sudut sekolah kami jumpai ruang bertajuk research center. Disinilah para siswa yang disebut Kelompok Pembinaan Khusus (kopasus) IT melakukan kajian terhadap perkembangan IT. Ada meja tertata melingkar dengan beberapa monitor layar datar berdiri tegak menantang. Ada dua orang siswa duduk melantai sambil tangannya cekatan merakit komputer. Mungin ini workshop bagi para kopasus IT.

“Jika komputer sekolah rusak siswa Kopasuslah yang memperbaikinya. Jadi kita tidak mengeluarkan biaya perawatan komputer. Sekolah yang berbasis IT itu bukan menyediakan komputer yang tersambung di segala ruang. Kalau ada biaya siapapun bisa. Yang saya lakukan adalah membina dan membentuk tim IT dari kalangan guru dan siswa.” Kata Pak Basyar sambil mengajak ke ruangan lain.

Sejenak kami tercengang. Beberapa siswa khidmat menatap komputer di depannya sambil mengutak-atik foto, animasi dan video. Di dalam ruangan itu, tersekat ciut studio radio sekolah: Pesat FM. Dua orang siswa sedang bercuap-cuap merdu menyapa pendengarnya.

Pada halaman yang dikitari oleh gedung sekolah itu, pohon sawo dengan buah ranum merimbuni siapa saja yang duduk di bawahnya (pada tiap pohon sawo dilingkari oleh tempat duduk beton segi delapan). Saat itu sekelompok siswa memenuhi tempat duduk di bawah pohon sawo itu, dengan bukunya masing-masing. Ini hari sedang pelajaran matematika. Terdengar celoteh, tawa riang, dan aksi dorong di antara mereka. Sungguh hebat, pelajaran matematika dijalani dengan riang tawa.

Sekolah bolehlah mungil, ruang kelas bolehlah membatasi interaksi. Namun, proses belajar yang dilakukan di sekolah ini menyeka batas-batas ruang sosial mereka. Sepertinya, siswa membuat halaman dan gedung sekolah ini sebagai ruang kelas mereka. Jadi tak heran jika sekolah ini tak memendam kesunyian. Siswa bisa ditemukan dimana-mana!

Masih bersama Pak Basyar, kami susur kelas demi kelas. Kami mengintip satu persatu kelas itu. Kami saksikan jelas, dinding-dinding kelas hampir-hampir tertutup rapat oleh gambar-gambar. Ya, ada grafiti di dalam kelas!

Di salah satu kelas, siswa saling berkelompok dengan duduk berhadap-hadapan. Ya, ini bukan kelas tradisional yang seluruh siswanya wajib menghadap ke depan. Dalam belajar, interaksi antar orang yang terlibat dalam belajar itu tetap utama—untuk membentuk suasana belajar dan proses pembelajaran.

Tampaknya, Pak Basyar dan para pendidik di sekolah itu menyadari ungkapan John Dewey. Dalam Democracy and Education ia berkata bahwa sebaiknya sekolah menyediakan lingkungan yang dimurnikan bagi anak (Counts, 2006). Dimurnikan berarti juga menyisihkan segala paham, nilai, sikap dan perilaku yang tidak menguntungkan bagi anak dalam melakukan proses belajar. Termasuk paham, nilai, sikap dan perilaku yang rujukannya hanya diukur dalam takaran orang dewasa. Disini anak bisa lebih berekspresi (menggrafitikan dinding kelas), berinteraksi (belajar bersama dengan menyenangkan) dan beraktualisasi (mengkais-kais potensi dirinya dalam IT dan keminatan yang lain). Ya, lingkungan di sekolah ini memang murni untuk anak didiknya sendiri.

Ini tidak butuh waktu lama bahwa akhirnya kami terkagumi oleh suasana belajar di sekolah itu: belajar multimedia, belajar di ruang terbuka, belajar kelompok. Semua itu dilakukan dalam rangka melibas sekat pembatas ruang belajar yang masih dianut kebanyakan sekolah selama ini. Benar-benar plus!

Wisma Kodel, 22 Januari 2009

[+/-] Selengkapnya...

Sekolah Alam Ciganjur: Sekolah yang Benar-benar Waktu Luang

Jam 07.30 pagi. Tiap hari bukan pagi yang terburu-buru. Pada saat banyak siswa di Jakarta bergegas mengejar kelas jam 6.30, disini, siswa berangkat satu jam lebih siang. Disini, siswa bukan disambut dengan kelas persegi panjang yang sempit, berderet meja kursi seragam tertata, dan papan hitam tersandar di muka, tapi dengan padang lapang kehijauan, dengan saung serupa panggung, dan tempat bermain yang bisa dipakai kapanpun sempat. Tanpa meja kursi, tanpa sekat pembatas kelas. Mungkin siswa disini tidak merasa masuk sekolah. Apalagi mereka tidak mengenakan pakaian seragam sekolah. Di lain pihak sementara orang menyangsikan: apakah yang semacam ini benar-benar sekolah?

Pagi pun tidak disambut dengan guru yang menanya tugas atau pekerjaan rumah, sambil secepat kilat mengeluarkan bertumpuk buku dalam tas. Pagi memang harus dinikmati. Dan para siswa menikmati pagi dengan bercerita ringan sehari-hari. Mereka berbincang pagii: tentang peristiwa kemarin, perasaan hari ini, maupun rencana yang akan dilakukan sepanjang hari. Para guru di sekolah itu menamai dengan morning talk.
Bagi sebagian orang, namanya tidak lagi jarang terngiang: Sekolah Alam Ciganjur. Kami ingin sedikit bertukar cerita tentang sekolah itu. Tentu hanya kilas sepintas, berdasar pengalaman kami bertamu sejenak di sekolah itu.

Kami berbelok ke kanan segera saat masuk pintu sekolah. Ada saung yang dibangun dengan teratak tangga yang lebih tinggi. Di lantai saung itu, ada satu komputer menyala dengan perempuan muda di depannya. Sedang mengerjakan administrasi siswa. Kami disambut, lalu duduk di alas karpet. Ini kantor sekolah itu. Tanpa meja, tanpa tempat duduk, hanya menggelosor.

Penasaran melayangkan tubuh-tubuh kami berkeliling di area yang luasnya 6.800 meter persegi itu. Dengan ditemani mang Pepen dan mang Asep, kami berjalan pelan sambil berkeliling sekolah. Jalan setapak, diplester. Disekelilingnya rumput-rumput hijau membungkus muka tanah. Beberapa pohon rambat mengatapi jalan setapak itu.
Kami dipergoki oleh antrian siswa yang hendak lewat. Ini siswa mungkin sedang mengikuti pelajaran olah raga. Atau mungkin bukan, karena di sini kapanpun para siswa bisa olah raga.

Di sebuah saung, siswa TK A sedang duduk mengantri. Berturut-turut seperti gerbong kereta yang sambung menyambung. Sesekali tawa kecil membahana dari siswa yang sengaja mendorongkan tubuhnya ke belakang mengenai temannya. Di pangkal antrian, seorang siswa dan guru sedang menghadap adonan dari tepung. Saat siswa di pangkal antrian selesai membuat rupa adonan, ia bergegas menuju ujung antrian. Begitu seterusnya mereka belajar membuat adonan.

Pada saung yang lain, sekelompok siswa mencari tempat masing-masing untuk sebuah kerja di tangan: alas dari papan yang menjepit selembar kertas di atasnya. Mereka sedang belajar menyalin huruf latin. Ada yang menunggingkan pantatnya di lantai saung, ada yang duduk di tangga, ada yang di pinggir jalan setapak, ada juga yang masih berlarian.

Pada bagian lain, di sudut sekolah, terhampar lapangan bola. Dua orang siswa sedang bermain sepak bola.

Sejenak waktu, kami menyalami beberapa siswa. Kami menatap mata mereka, mereka pun menatap mata kami. Uluran tangan langsung disambut. Nyaris tak ada rasa minder terbersit di wajah cerah mereka. Yang tersisa hanya ketegaran dan rasa ingin tahu yang lebih dalam pada kami, walau belum sempat kata-kata terucap dari mulut mereka yang menganga.

Di ketinggian, seorang siswa perempuan sedang menaiki teratak dari tali. Tiada ragu kaki menginjak, tak ada waktu untuk sesaat menengok ke bawah. Ia seperti sudah biasa dengan ketinggian. Ya, mereka, siswa yang lebih besar (mungkin kelas 5 atau 6) sedang khusyu bermain flying fox.

Saat itu kami datang tanpa diundang, kami datang tanpa memberitahu rencana kunjungan. Kesimpulan sederhana kami, apa yang kami lihat saat itu adalah apa yang terjadi setiap hari di sekolah itu. Ini sekolah atau tempat bermain?
Sekolah secara harfiah berarti ‘waktu luang’, berasal dari bahasa Latin, skhole, scola, scholae atau schola. Apa kegiatan yang paling tepat untuk mengisi waktu luang bagi anak-anak selain bermain-main?

Alkisah, orang Yunani tempo dulu biasanya mengisi waktu luang mereka dengan mengunjungi suatu tempat atau seseorang yang pandai. Mereka menanyakan dan mempelajari ikhwal yang mereka rasa butuh diketahui. Mereka meyebut kegiatan itu dengan istilah di atas. Keempatnya punya arti yang serupa: waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar—leisure devoted to learning (Topatimasang, 1998).

Pada Sekolah Alam Ciganjur, para siswa datang ke tempat itu. Mereka menghabiskan waktunya untuk bermain: adonan, sepakbola, flying fox. Dengan bantuan para guru, mereka bermain tidak sekedar bermain, tapi ada pelajaran yang bisa didapat dari permainan itu. Di sekolah itu mereka bersenang-senang, bahkan mungkin lupa bahwa mereka sebenarnya sedang mempelajari sesuatu.

Di sebuah saung, ada gambar-gambar ikan yang ditempel melingkar pada lantainya. Fungsinya untuk membantu siswa agar bisa berdiri melingkar bulat teratur—sesuatu yang tidak mudah bagi anak usia 4-5 tahun. Dipakai setiap hari untuk mengakhiri jam pelajaran. “Itu baru kami terapkan”, ujar mang Asep, sambil menujuk gambar ikan yang ditempel melingkar itu. Sungguh, ternyata, di sekolah ini siswa dan guru saling belajar sesuatu yang baru—yang layak diketahui dan dijalani bersama-sama.

Tidak dinyana, kami teringat sekolah Summerhill yang didirikan A.S. Neill di London tahun 1921. “Menurut saya anak punya watak dasar bijaksana dan realistis. Kalau dibiarkan tanpa campur tangan apapun dari orang dewasa, ia akan berkembang sejauh potensinya memungkinkan. Secara logis, di Summerhill, barangsiapa punya potensi dan ingin jadi intelektual, ia akan jadi intelektual. Barangsiapa yang hanya cocok menyapu jalanan akan menyapu jalanan. Namun sejauh ini kami tidak menghasilkan segerombolan tukang sapu jalan.” Begitu ujar Neil (2006). Di Sekolah Alam Ciganjur, para siswa belajar dengan caranya sendiri dan tentang apa yang ingin mereka ketahui bersama. Jadi jangan heran jika ada siswa yang belajar sambil tiduran sementara yang lain hidmat menatap wajah guru. “Saya mendengarkan kok, Bu” begitu jawab seorang siswa yang belajar sambil berbaring, dan guru pun membiarkan ia belajar dengan caranya yang khas itu.

Mengapa sekolah ini berbeda dengan jamak sekolah yang lain? Ingin menawarkan sistem yang baru, mungkin. Tapi, ini pasti menyangkut salah satu pemberatan dari dua aspek pengalaman manusia: aspek logis dan psikologis (Dewey, 2006). Pada saat banyak sekolah memberati aspek pertama: dengan membebankan pelajaran atau bidang studi agar bisa menjawab Ujian Nasional, sekolah ini memilih pemberatan pada aspek kedua: bahwa pelajaran sekolah memang benar-benar mengikuti tumbuh kembang kepribadian anak. wallahua’lam.

Wisma Kodel, 21 Januari 2008

[+/-] Selengkapnya...